Program AIRAES 1998/1999
Daftar Isi
|
1. PENGALAMAN PESERTA AIRAES DARI IKIP PADANG |
Breakfast Club di Launceston College
Hallo nama saya ELISE MURYANTI. Panggilan saya Cece bukan Elise lho. Saya salah seorang peserta AIRAES dari Padang. Saya ditempatkan di beberapa sekolah di Tasmania dan salah satu sekolahnya adalah di Launceston College. Saya mengobservasi dan mengajar Bahasa Indonesia di Launceston College Tasmania. Di sana saya di bantu oleh guru bahasa Indonesianya yang kebetulan adalah Host Family saya sendiri. Namanya Phillys Robinson. Panggilannya adalah Phillys. Pengalaman saya yang tidak terlupakan (My unforgettable experience) di Launceston College adalah pada waktu saya diajak oleh siswa Launceston College pada acara Breakfast Club. Acara tersebut tidak biasa saya temui di Indonesia. Karena kami tidak mengadakan acara tersebut di sekolah-sekolah. Di sana banyak terdapat hidangan untuk sarapan pagi seperti roti tawar, selai, aneka buah-buahan seperti apple, strawberry dan minuman seperti teh, susu, kopi dan lain-lain. Dan kalau mau bisa bikin roti bakar sendiri. Pengunjungnya ramai lho, siswa-siswa Launceston dan guru-gurunya. Acara tersebut sangat bagus sekali untuk menjalin hubungan kekerabatan antara sesama siswa dan antara guru dan siswa-siswanya. Pada kesempatan tersebut saya bisa bercakap-cakap dengan guru-guru lainya dan dengan siswa-siswa lainya. Saya sangat senang bisa dapat hadir dalam acara sarapan pagi bersama (Breakfast Club). Terima kasih saya ucapkan kepada Launceston College, Kepala Sekolah, siswa dan guru-gurunya terutama Phillys Robinson guru bahasa Indonesia di sana atas kesempatan yang diberikan kepada saya. I really miss all of them.
Salam, Cece
Tekan tombol ALT+BACK ARROW untuk kembali ke Daftar Isi
Mole Creek yang Dingin
Kenangan manis selama di Tasmania, Australia
Oleh: Sudiharto AIRAES Padang
Tak pernah terlintas di dalam pikiranku untuk lama tinggal di negeri yang dingin. Selama ini saya suka tinggal di daerah yang cukup panas seperti di Padang. Oh, ya, nama saya Sudiharto cukup panggil saya , Ito. Kalau di Sumatra Utara Ito berarti Abang atau panggilan manja dari seorang istri kepada sang suami. Tetapi keluarga Pak Phil di Mole Creek memanggil saya Sudi yang berati mau, rela dan ikhlas. Selama di Mole Creek bersama keluarga angkat Pak Phil Budgeon, Ibu Margaret Budgeon serta Amy, dan Thomas yang lucu, membuat saya teringat pada keluarga kakak saya yang berada di Tanjung Pinang, Bintan Island. Mereka keluarga yang bahagia sekali dan membuat saya merasa memiliki kebahagiaan yang baru di Mole Creek. Pengalaman yang tak akan terlupakan oleh saya adalah ketika Pak Phil mengajak saya ke pegunungan McKenzi untuk melihat langsung salju putih di sana. Sungguh luar biasa dan memang tidak pernah terlintas dipikiran saya akan bertemu dengan salju sebab waktu itu di bulan February sedang musim panas, dan mustahil terjadi salju pada waktu pagi di hari Jumat tanggal 20 Februari 1998. Terima kasih Pak Phil. Mole Creek yang dingin memang luar biasa. Biasanya saya tidak tahan dengan cuaca dingin namun entah kenapa saya seakan diberi kekuatan untuk bertahan. Barangkali Tuhan masih sayang pada saya, serta Keluarga Pak Phil yang selalu merawat saya dengan baik.Terutama Ibu Budgeon yang sempat cemas ketika saya sakit perut pada suatu hari. Mole Creek yang dingin tidak membuat saya menyerah begitu saja. Saya sempat bermain bersama anak-anak sekolah SD. Waktu itu teringat bermain soccer dengan siswa kelas 5, 6 dan ternyata saya mempunyai sporter yang cukup banyak dari murid kelas 2, 3, dan 4. Dan cheer leadernya waktu itu si anak manis, Bianca, Mickuela dan lain-lain. Mereka meneriakkan "Gol Pak Sudi, Gol Pak Sudi! Lucu ya? Mole Creek yang dingin juga tidak membuat saya jera untuk bermain layang-layang bersama Amy dan Thomas serta murid-murid yang lain. Kebetulan salah salah satu kegiatan di sekolah adalah mengajarkan "How to make a kite". Maka menjadi ramailah halaman sekolah dengan layang-layang yang dimainkan oleh mereka. I'm very happy. Terakhir, terima kasih untuk Pak Phil sekeluarga. I miss you, Terima kasih Ibu Lesley dan terima ksih buat Mrs. Lyne, Mrs. Cameron, Teresa yang pintar dan Ron Web yang baik hati selalu menolong saya selama di sekolah. Terima kasih untuk semua. Thank you for everybody.
Love, Sudi
Tekan tombol ALT+BACK ARROW untuk kembali ke Daftar Isi
Pengalaman di Exeter Primary School
Hai ! Nama saya Rima Andriani Sari, tetapi hampir setiap orang yang mengenal saya memanggil dengan sebutan nama Pipim, bukan dengan nama Rima. Saya ditempatkan di Exeter Primary School, Exeter, sebagai tempat saya memperkenalkan budaya Indonesia dan juga mengenal sekolah di daerah Tasmania. Waktu itu hari Senin tanggal 16 Februari 1998, saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Exeter Primary School. Kesan saya...wow ! Sekolahnya sangat besar dan juga sangat lengkap. Ada kolam renang dengan pemanas alami sinar matahari, perpustakaan, hall yang besar, ruang bermain anak yang berbeda untuk setiap tingkat, dan juga kelas-kelas yang tertata sangat santai tetapi enak digunakan untuk belajar.
Hari pertama itu saya berkeliling sekolah, mengobservasi kelas, diperkenalkan kepada seluruh siswa sewaktu lunch assembly, dan 'belajar' menggunakan playground bersama anak-anak. Hari itu saya telah memiliki beberapa orang'teman bermain'. Hari kedua, saya mulai memasuki kelas yang berbeda dan memperkenalkan Indonesia kepada siswa, mengenai budaya, pulau, adat, bahasa, dan lain-lain. Saya juga menceritakan asal muasal nama Minangkabau kepada mereka. Setelah itu saya berikan mereka waktu untuk bertanya. Dan pertanyaannya, ya ampun ..... banyak sekali ! Ada yang bertanya mengenai binatang-binatang di Indonesia, atau mengenai mobil (ada nggak, mobil di Indonesia ?, yang tentu saja saya jawab ada, kebanyakan malah !), fried chicken (khusus yang satu ini, saya katakan ada California Fried Chicken ataupun Kentucky Fried Chicken yang tersebar banyak di seluruh Indonesia, dan mereka bisa membeli satu hamburger lengkap kurang dari Aus $1, mereka jadi ingin ke Indonesia. He..he). Setelah saya bandingkan antara satu kelas dengan kelas yang lain (entah berapa, banyak betul sih), dapat saya simpulkan bahwa anak-anak Prep lebih banyak bertanya mengenai soal binatang. Tetapi mereka sebenarnya cenderung bercerita daripada bertanya. Anak-anak lain juga begitu, tetapi untuk grade 5-6 mereka cenderung bertanya hal-hal yang juga setara dengan kemampuan yang mereka miliki, seperti cara sembahyang orang Islam, pergaulan muda-mudi di Indonesia, dan film (ada yang bahkan merekomendasikan film Titanic untuk ditonton. Akhirnya saya pun menonton di Padang, dan memang wow ! Terima kasih untuk yang telah merekomendasikan). Saya mendapat pengalaman yang sangat berharga selama berada disana. Saya mengenal begitu banyak hal mengenai mengajar dan juga belajar di Tasmania. Terima kasih untuk semua guru dan siswa di Exeter Primary School. Saya merindukan keramahtamahan semuanya.
Salam kangen, Pipim
Tekan tombol ALT+BACK ARROW untuk kembali ke Daftar Isi
The Exchange of Teacher Education Students
We, eleven students from English department of IKIP Padang, have been selected to participate as exchange of teacher education students in Australia-Indonesia Rural Areas Education Scheme (AIRAES) program on 10 February-15 March 1998. This program had aimed to give chance for the exchange of teacher education students to get experience about the education and the nature of society in Indonesia and rural Australia.
It was the first time and an unforgettable experience for me to go abroad. I had a dream that I could see and know by myself how English was communicated by native speakers and could know the life style of them. I felt that my dream came true. We were located in Tasmania, a small and beautiful island in Australia. Though we have been there for five weeks, we had many experiences that we got during at university and at our own host families.
For the first week we stayed at Archer�s Manor Motel near University of Tasmania (Utas) in Launceston. We had orientation about Tasmania and education in rural areas from some lecturers of Utas. Then we were also welcomed in official welcome Ceremony by Vice-Chancellor Professor Don McNicol, Deputy Premier Mrs. Sue Napier and Media.
On Sunday, 15 February, We met our hosts and school representatives. It was the first day for us to stay at our own host families. We stayed in different areas. I myself was in Cressy while my friends were in Moll Creek, Deloraine, Davenport, etc. stayed at our hosts for three weeks. We had some activities at our host schools. During these weeks, I did observation about how English and Indonesian were taught. Also I helped an Indonesian teacher taught Indonesian. Indonesian was still new for them but they were really interested in learning it. It could be seen that the students from grade 4 up to grade 10 and even the teachers were learning Indonesian with full attention.
For the last week, on 10 March, we returned to archer�s Manor Motel took by our host families. On the following two days we had debriefing sessions at campus. And for the rest of day we flew to Melbourne and traveled to cinema, Botanic garden, etc.
From: Hartina Tri Yuni
Tekan tombol ALT+BACK ARROW untuk kembali ke Daftar Isi
Semalam di Rumah Kepala Sekolah Forth Primary School Tasmania, Australia �.
Aku terlonjak ! Ya.... akhirnya sampai juga aku di Forth, sebuah kota kecil yang begitu indah. Kulirik arloji mungil di pegelangan tanganku, jam 5.00 sore , Kok kelihatannya masih siang ya ? Kualihkan pandanganku ke sekeliling tempat aku berdiri. Wow... rupanya aku berada di depan sebuah rumah yang begitu mungil dan asri. Mungil ? Yah paling tidak semula kukira begitu, tapi setelah aku masuk ke dalamnya ternyata rumah ini lumayan besar juga.
Sampai di dalam aku ditawari minum, kontan saja kujawab dengan anggukan kepala soalnya aku memang benar-benar haus sich. Eeh ....tapi ini kan hari pertama di rumah orang tua angkat, kok aku udah berani-beraninya minta tambah air lagi.... ah .. Biar aja daripada mati kehausan.
Amboi.... keluarga angkatku yang satu ini ternyata ramah sekalllliii.... !!! Keluarga ini adalah keluarga Kepala Sekolah yang akan aku kunjungi mulai dari keesokan harinya. Mark, sang kepala sekolah dan istrinya langsung menunjukkan ruangan yang dapat aku pergunakan untuk istirahat, kamar mandi, dsb.... aku juga diberi handuk dan sabun serta benda-benda lain yang dapat aku pergunakan untuk mandi termasuk minyak mandi..... ceilahhh lengkap bo..
Setelah itu mereka keluar sambil tak lupa berpesan agar sesudah mandi naik ke atas (ruang makan) untuk makan malam.
Kuturuti pesan mereka walaupun sesungguhnya aku sangat mengantuk dan ingin tidur. Tepat jam 6.00 aku sudah berada di ruang makan. Eh.. Duduknya ditentukan lho.. Enggak boleh sembarangan ngedepok aja rupanya..... Pada saat makan malam itulah aku diperkenalkan dengan putra-putri mereka. Siap makan malam aku ngomong-ngomong sebentar dengan mereka. Saat itu aku berhasil mencairkan kekakuanku terhadap keluarga tersebut bahkan sempat membuat mereka tertawa terbahak-bahak, terutama ketika aku berusaha menyebut nama kedua kepala sekolah Mr. W-h-i-t-t-l-e yang aku sebut Mr. W-h-i-s-t-l-e.
Setelah itu, aku ditawari untuk berkunjung ke rumah calon ibu angkatku yang kedua yang ternyata tidak jauh dari rumah itu. Aku diantar oleh sang kepala sekolah beserta kedua anaknya ke rumah itu dan sempat bercakap-cakap sebentar. Lalu karena melihatku begitu lelah, akhirnya kepala sekolah memutuskan untuk pulang saja. Nah pembaca..... pada saat pulang itulah aku sempat terjatuh dan muntah di tepi jalan..... Aku memang terlalu lelah ditambah lagi dengan makanan yang agaknya sedang dalam proses penyesuaian selera. Perutku sangat mual dan pandanganku nanar.
Melihat hal ini, mereka begitu cemas dan membimbingku untuk pulang sesegera mungkin. Sesampainya dirumah aku langsung rebah di tempat tidur. Istri kepala sekolah memberiku semacam minyak angin dan menawariku obat dan alternatif untuk pergi ke dokter , tapi aku bilang aku cuma sedikit pusing dan bisa disembuhkan dengan obat yang aku bawa dari tanah air ditambah dengan istirahat yang cukup. Tak lama kemudian dia pun datang membawa air minum buatku. Aku dibantu minum obat , lalu diselimuti dengan sayang olehnya dan kedua putra-putrinya . Aku merasa begitu terharu. Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku. Aku melihat kepala sekolah sibuk mondar-mandir membawa air dengan ember dan semacam sapu....... Lalu kutanya istrinya tentang itu.... Dia bilang, itu untuk menyiram dan membersihkan bekas muntahku di jalan tadi.....
Tidak tergambar betapa terkejut diriku setelah mendengar hal itu.... Tidak terfikir olehku ulahku ternyata merepotkan orang yang baru pertama kukenal..... ya ampun Azizah.... macam-macam saja ulahmu. Tapi itu lho kok pake disiram segala? Kan cuma di jalan. Ya, ternyata memang begitulah tata tertib di Australia, jangankan muntah, meludah saja tidak diperbolehkan. Aku merasa sangat menyesal dan segera minta maaf kepada keluarga tersebut. Tapi lagi-lagi aku terkejut dan juga merasa terharu, sebab mereka dengan lembutnya berkata : No problem ! Lalu aku diantar kembali ke kamar .
Yaa.... begitulah pengalaman pertamaku di Forth. Aku memang merasa menyesal atas kejadian itu, tapi kan enggak sengaja. Lagian, itung-itung nambah pengetahuan tentang budaya Australia lah !.... Iya kan ? Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan sedikit gambaran tentang budaya Australia bagi yang belum tahu.
Buat : Kepala sekolah Forth Primary School, sekali lagi minta maaf........
Salam ya... buat seluruh siswa dan Staff Forth Primary School.
Tekan tombol ALT+BACK ARROW untuk kembali ke Daftar Isi
Pengalaman dalam Mengobservasi dan Mengajar Bahasa Indonesia di Tasmania
Kedatangan Mahasiswa IKIP Padang dalam rangka program AIRAES (Australia-Indonesia Rural Area Education Scheme) keTasmania telah berjalan pada tangal 7 Februari 1998 sampai dengan 5 Maret 1998. Kegiatan ini sangat berhasil sekali dalam bidang pengajaran bahasa Indonesia dan sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak yaitu bagi mahasiwa Indonesia sendiri dan bagi sekolah-sekolah di mana mahasiswa Indonesia ditempatkan. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia ini ditempatkan di beberapa sekolah di Tasmania. Penulis sendiri memperoleh kesempatan untuk mengajar bahasa Indonesia dan mengobservasi pengajaran bahasa di beberapa sekolah yaitu di ST Marys Primary School, Doleraine High School, Launceston College, dan Riverside Primary School.
ST Marys Primary School
Sekolah ini terletak di daerah pedesaan jauh dari pusat kota, kira-kira dua setengah jam perjalanan dari Launceston. Penduduk di St Mary sangat ramah dan mereka selalu meyapa , say Hallo setiap kali bertemu di jalan. Staff Pengajar di sekolah St Mary sangat baik dan ramah. Guru bahasa Indonesia seperti Christine Kelly dan Frans Andrew, serta kepala sekolah dan guru lainya sangat membantu sekali. Pengalaman saya yang paling berkesan di sekolah tersebut adalah pada waktu mengajarkan tari minang dan lagu berbahasa Indonesia untuk Siswa. Dan mereka kelihatannya sangat antusias mempelajarinya. Mereka dapat mengikutinya dengan baik. Beberapa hal yang saya amati adalah di St Marys terdapat fasilitas yang sangat bagus. Sekolah memiliki komputer yang cukup, dan peralatan lainya yang sangat menunjang untuk kelancaran proses balajar dan mengajar seperti buku-buku, Video, TV, Projektor dan sebagainya. Siswa-siswa di St Marys sangat aktif dan disiplin. Mereka kelihatannya sangat tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia . Namun kekurangan yang saya temui pada guru bahasa Indonesia dari hasil pengamatan saya adalah wawasan bahasanya sangat rendah sekali. Mereka tidak tahu banyak tentang bahasa Indonesia, dan pengetahuan bahasa Indonesia mereka tidak bisa digunakan dalam berkomunikasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena mereka tidak hanya mengajar bahasa Indonesia saja tapi mereka juga mengajar pelajaran lainnya di samping pelajaran bahasa Indonesia. Saran saya sebaiknya untuk pengajaran bahasa asing, tidak hanya pengajaran bahasa Indonesia tapi juga pengajaran bahasa lainya, menggunakan guru yang benar-benar menguasai bahasa tersebut jadi tidak bercampur dengan guru pelajaran lainya. Di ST Marys saya bersama dengan guru bahasa Indonesia mengajar bahasa Indonesia di kelas.
Doleraine High School
Kegiatan di Doleraine High School sama dengan kegiatan yang saya lakukan di St Mary. Saya mengobservasi pengajaran bahasa Indonesia di sana. Dan juga saya mengajarkan beberapa lagu berbahasa Indonesia untuk anak-anak Primary School. Anak- anak sepertinya belajar dengan rajin dan giat. Apa-apa yang disuruh guru selalu dikerjakan dengan baik. Fasilitas sekolah Doleraine sangat bagus. Siswa di sekolah tersebut telah mengenal cara mengoperasikan komputer dan ini tidak saya temui di sekolah dasar di Indonesia.
Launceston College
Sekolahnya terletak di pusat kota, dengan bangunan yang unik dan bagus. Saya mengajar bahasa Indonesia di Launceston College bersama dengan Phillys Robinson guru bahasa Indonesianya. Kegiatanya mengajarnya berupa group Work di mana siswa-siswanya diminta untuk menampilkan percakapan singkat dalam bahasa Indonesia. Siswa Launceston College adalah siswa dewasa dan materi yang diajarkan lebih padat dan lebih tinggi tingkatannya dari pada siswa di ST Marys dan Doleraine. Siswa Launceston College sangat aktif dalam belajar bahasa Indonesia. Mereka sering bertanya dan berkonsultasi dengan guru bahasa Indonesia tentang pelajaran bahasa Indonesia. Hal yang sangat berkesan bagi saya adalah kemauan yang tinggi dari beberapa siswanya dalam belajar bahasa Indonesia. Ada yang di antara siswa sengaja datang ke kantor guru hanya untuk bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Guru di sekolah tersebut dapat mengajarkan bahasa Indonesia dengan baik. Dalam arti lain bahwa dia cukup berhasil dalam mengajarkan bahasa Indonesia dan ini saya amati dari kemampuan siswanya berbahasa cukup bagus.
Selama disekolah tersebut banyak hal yang Penulis peroleh yang menunjang dan menambah pengetahuan dalam mengajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing disekolah. Dan ini sangat berharga sekali bagi penulis sebagai calon guru. Seorang guru seharusnya harus memiliki wawasan yang luas, terutama tentang bidang yang digelutinya. Pengalaman mengajar yang penulis alami di Tasmania-Australia akan sangat membantu untuk pengembangan pengetahuan tentang Pengajaran Bahasa .
Salam Penulis
Elise Muryanti
Tekan tombol ALT+BACK ARROW untuk kembali ke Daftar Isi
Pengalaman di Rumah Orang Tua Angkat
Helo! Salam Kenal!
Nama saya Hartina Tri Yuni, paling senang dipanggil "Titin" bukan Tintin lho, saya kan bukan ditektifnya seperti dalam film kartun �Tintin� itu lho. Nah, dalam rubrik ini saya mau cerita tentang pengalaman saya waktu tinggal di rumah orang tua angkat saya di Cressy-Tasmania dulu.
Saya tinggal dengan orang tua angkat saya di Cressy selama lebih kurang tiga minggu. Ibu angkat saya yang cantik, Libby Archer, dan suaminya yang tampan, David Archer, mempunyai dua orang anak yang lucu dan manis. Mereka bernama Victoria yang senang dipanggil Tori dan Nicholas dengan panggilan Nic. Mereka tinggal di sebuah rumah yang besar di area pertanian.Rumah mereka dikelilingi lahan pertanian yang sangat luas dan perternakan seperti Perternakan sapi, domba, dan rusa (deer). Di samping itu mereka juga mempunyai pohon-pohon apel dan buah beri.
Pertama kali saya menginjakan kaki di rumah itu saya merasakan sepi sekali karena saya dengan teman-teman lain tinggal di tempat yang jauh dan berbeda. Saya sangat sedih namun untung saya punya orang tua angkat yang baik. Mereka mencoba menghibur saya. Mereka baik sekali pada saya sehingga saya bisa tinggal di sana dengan senang. Mereka memperlakukan saya seolah saya juga bagian dari keluarga mereka sendiri. Saya bisa mengenal cara mereka hidup dalam keluarga dan cara mendidik anak-anak mereka. Menurut saya mereka adalah keluarga yang bahagia. Setiap saya berkumpul di waktu sarapan dan makan malam saya sering mendengar dan terlibat dalam canda mereka. Di sana saya juga memperoleh banyak kata Slang. Mereka selalu memberikan arti untuk tiap kata yang tidak saya mengerti dengan cara menggunakan kata-kata lain.
Orang tua angkat saya juga mempunyai beberapa ekor anjing. Satu di antaranya bernama Bastar (maaf! Saya tidak tahu ejaannya yang benar). Anjing itu diperlakukan seperti manusia oleh mereka. Dia bisa mengerti dan melakukan apa yang dikatakan dan disuruh ole orang tua angkat saya. " He was a funny dog."
Tekan tombol ALT+BACK ARROW untuk kembali ke Daftar Isi
|
2. PENGALAMAN PESERTA AIRAES DARI UNIVERSITAS TASMANIA |
Pengalaman Mahasiswa Universitas Tasmania selama Melakukan Observasi di Sekolah Dasar di Padang, Sumatra Barat, Indonesia
Mereka ditempatkan di beberapa Sekolah Dasar di wilayah kota Padang. Kegiatan yang mereka lakukan antara lain mengobservasi pengajaran di kelas, dan mengajar Bahasa Inggris bersama dengan guru bahasa Inggrisnya. Salah satu dari Sekolah di mana mereka ditempatkan adalah di SD (Sekolah Dasar) 01 dan 02 Angkasa. Mahasiswa yang ditempatkan di sekolah tersebut adalah Lamanda Harris dan Rebecca Cambell. Dari pengalaman mereka di Sekolah tersebut yang paling berkesan adalah kehangatan lingkungan sekolah dalam menyambut kedatangan mereka. Mereka sangat terkesan sekali dengan keramahtamahan guru dan siswa di sekolah tersebut dalam menerima kedatangan mereka.
Lamanda, salah seorang dari mereka, bercerita bahwa Sekolah Dasar di mana dia ditempatkan cukup bagus. Lingkungan sekolahnya berbeda dengan sekolah dasar yang ada diTasmania. Terutama perbedaan yang sangat menyolok adalah adanya kekurangan fasilitas untuk pengajaran di sekolah. Jumlah siswa di setiap kelas lebih dari 40 orang. Dan ini jumlah yang sangat besar kalau dibandingkan dengan di sekolah Australia. Walaupun jumlah mereka banyak dalam setiap kelas, hasil yang dapat dilihat siswa-siswa tersebut adalah mereka berhasil menguasai materi yang diajarkan dengan baik. Pelajaran yang mereka pelajari cukup padat antara lain Matematika, Ilmu pengetahuan Alam (Natural Sciences) , Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Science), Agama (Religion ), Budaya Alam Minang kabau (Minang Culture), Pendidikan Pancasila (Indonesian Principle), Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab. Untuk pengajaran bahasa Inggris selama program AIRAES guru bahasa Inggris dibantu oleh mahasiswa AIRAES TASMANIA.
Hasil dari program kerjasama AIRAES ini sangat memuaskan terutama dalam bidang pengajaran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di sekolah Australia dan Indonesia. Dari apa yang penulis peroleh sebagai salah seorang mahasiswa dari IKIP Padang yang berpartisipasi dalam program AIRAES, dapat penulis manfaatkan dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah di Padang seperti cara mengajar yang penulis observasi di beberapa sekolah di Tasmania seperti di St. Marys Primary School, Doleraine High School, Launceston College, dan Riverside Primary School. Sangat banyak pengalaman mengajar yang penulis peroleh dari program AIRAES ini. Dan ini sangat bermanfaat sekali bagi penulis sebagai seorang guru. Harapan penulis semoga hubungan kerjasama ini tidak putus sampai disini dan semoga kita selalu keep in touch each other.
Penulis: Elise Muryanti (Cece)
Tekan tombol ALT+BACK ARROW untuk kembali ke Daftar Isi
Hai ! Nama saya Rima Andriani Sari, tetapi hampir tidak ada yang memanggil saya dengan sebutan Rima, namun dengan nama Pipim. Saya dulu ditempatkan di Exeter Primary School dan sekarang saya menjadi "kakak angkat" (host sister) dari Rebecca Campbell.
Ada pengalaman lucu saat saya dan kakak saya, Armi, membawa Rebecca ke Bukittinggi, sebuah kota wisata di daerah Sumatera Barat. Sewaktu itu, kami berjalan-jalan melihat-lihat suvenir yang menarik sepanjang Pasar Atas Bukittinggi. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berumur sekitar 14 tahun yang menyapa Rebecca "Hello, where are you from ?". Rebecca menjawab dengan sopan bahwa dia berasal dari Australia walaupun dia merasa sangat heran. Menurut dia, orang Australia biasanya tidak berbicara dengan orang asing. Lalu anak laki-laki itu terus bertanya "Can I practice my English with you ?". Rebecca dengan sopan lalu menolak karena sedang berbelanja. Lalu saya dengan halus berkata kepada anak laki-laki itu bahwa dia bersama kami, dan sedang ingin melihat-lihat. Anak laki-laki itupun mengerti dan beranjak pergi. Kamipun melanjutkan jalan-jalan kembali.
Sayangnya baru sekitar 10 menit, tiba-tiba ada serombongan anak perempuan (barangkali sekitar 8 orang, karena saya lupa menghitung) yang bertubi-tubi menanyakan nama, asal, dan alamat Rebecca. Rebecca tercengang karena kemudian merekapun minta tandatangan dan minta foto bersama. Saya dan kakak saya tertawa melihat Rebecca yang dikerubuti layaknya seorang pejabat saat mengadakan konferensi pers atau layaknya seorang bintang film tenar. Kakak saya langsung saja mengatakan bahwa Rebecca memang pantas menjadi bintang film walaupun hanya sehari. Saya tidak tahan untuk tidak ikut memotret Rebecca saat menandatangani buku kecil anak-anak perempuan itu. Klik. Biar Rebecca bisa memberikan bukti kepada orang tua maupun teman-temannya bahwa dia sempat menjadi orang top di Bukittinggi.
Rebecca merasa sangat senang di Bukittinggi seperti diceritakannya kepada saya. Diapun sempat membeli kain untuk baju kurung yang kemudian dijahitkannya menjadi "Baju Kurung ala Rebecca". Ada banyak pengalaman manis kami sekeluarga dengan dia. Dan kami merasa sangat kehilangan sewaktu Rebecca berangkat pulang ke Tasmania. We�re all gonna miss you so much.
Salam, Pipim
Tekan tombol ALT+BACK ARROW untuk kembali ke Daftar Isi
|
Hallo, para peserta AIRAES, para orang tua asuh/ibu kost (host family), Ibu/Bapak Guru serta para siswa sekolah latihan; Forum for Indonesian Language Learners PO Box 66 Padang 25001 Indonesia |
|||
Copyrights © 1998, 1999 by Global Foundation